Follow Us!

Ilmuwan Indonesia kembangkan metode eDNA pertama untuk deteksi spesies hiu berjalan endemik yang dilindungi, cukup dari sampel air laut

Hiu berjalan (walking shark) di perairan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti)

SIARAN PERS

Jakarta, 22 Mei 2026 – Kolaborasi internasional yang dipimpin oleh para ilmuwan Indonesia berhasil mengembangkan metode berbasis environmental DNA (DNA lingkungan / eDNA) untuk mendeteksi hiu berjalan (walking shark) di perairan Raja Ampat. Cukup dengan mengambil beberapa liter sampel air laut, metode ini melacak ‘jejak’ materi genetik (sel kulit, lendir, atau kotoran) yang ditinggalkan hiu, tanpa perlu menyelam atau menangkapnya.

Bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (22 Mei), tim ilmuwan dari Elasmobranch Institute Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Konservasi Indonesia, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, dan Re:Wild mengumumkan keberhasilan pengembangan metode eDNA yang secara khusus dirancang untuk mendeteksi genus hiu berjalan (Hemiscyllium spp.). Terobosan ini memudahkan pemantauan spesies endemik yang sulit diamati langsung karena aktif di malam hari dan bersembunyi di celah karang, sekaligus mengurangi risiko perjumpaan dengan hewan laut berbahaya, seperti buaya air asin yang juga mendiami habitat hiu ini.

Riset yang baru saja diterbitkan di jurnal internasional Environmental DNA ini memperkenalkan primer genetik baru bernama ES-200ND4 yang menargetkan gen mitokondria NADH4 hiu berjalan. Ini adalah pertama kalinya gen NADH4 digunakan sebagai penanda eDNA di lingkungan laut. Di laboratorium, primer ini terbukti mampu mendeteksi DNA hiu berjalan meski dalam konsentrasi cukup rendah.

Baca makalah penelitian di sini (dalam bahasa Inggris): https://birdsheadseascape.com/wpfb-file/prabowo-setyawan-et-al-2026_edna-for-epaulette-sharks-pdf/

Uji coba lapangan di Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya pada Desember 2024, menunjukkan efektivitas metode ini. Dari tujuh lokasi pengujian, hiu berjalan endemik Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), yang dikenal masyarakat setempat sebagai Mandemor atau Kalabia, terdeteksi melalui eDNA di enam lokasi. Primer ES-200ND4 menunjukkan spesifisitas yang tinggi terhadap hiu berjalan tanpa amplifikasi deteksi pada spesies non-target.

“Primer baru ES-200ND4 yang kami kembangkan memungkinkan deteksi DNA spesifik hiu berjalan secara akurat dari sampel air laut, tanpa perlu menangkap individu. Ini adalah terobosan genetika penting yang mendukung upaya konservasi berbasis bukti,” ujar Dr. Danang A. Prabowo, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN yang turut mengembangkan primer ini bersama dua peneliti lain dari Pusat Riset Zoologi Terapan, Dr. Andhika Prima Prasetyo dan Dr. Sutikno.

Temuan paling menarik dijumpai di perairan Dayan, utara Pulau Batanta. Keberadaan hiu berjalan di lokasi ini sebelumnya hanya diperoleh dari penuturan masyarakat lokal, sementara tim peneliti belum pernah mengkonfirmasi keberadaan visualnya secara langsung. Namun, sampling yang dilakukan pada siang hari dengan metode eDNA justru memberikan sinyal positif keberadaan hiu ini secara jelas. Hal ini membuktikan bahwa eDNA dapat memberikan informasi pelengkap ketika survei visual tidak dapat dilakukan.

Hiu berjalan (walking shark) di perairan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti). “Berjalan” di terumbu karang pada malam hari.

“Uji coba lapangan kami di Raja Ampat menunjukkan bahwa eDNA dapat melengkapi keterbatasan pengamatan visual, terutama untuk spesies yang aktif pada malam hari atau bersembunyi di habitat kompleks. Kini kita memiliki opsi pemantauan yang tidak invasif dan dapat diandalkan untuk spesies yang dilindungi ini, termasuk deteksi di siang hari” ungkap Dr. Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia dan penerima Pew Fellowship 2025 di bidang konservasi laut.

Hiu berjalan dikenal karena kemampuannya yang unik, yaitu “berjalan” di dasar laut menggunakan sirip dada dan perutnya. Spesies ini hanya ditemukan di Indonesia timur, Papua Nugini, dan Australia utara dan timur, dengan wilayah jelajah yang sangat sempit, sehingga menjadikannya salah satu kelompok hiu paling rentan terhadap kerusakan terumbu karang dan perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 30 Tahun 2023 telah memberikan perlindungan penuh kepada seluruh spesies hiu berjalan. Namun, kebijakan tersebut sulit diimplementasikan tanpa data sebaran yang akurat. Metode eDNA yang cepat, murah, dan tidak invasif ini menjadi alat yang tepat untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi berbasis bukti.

“Teknologi ini memberikan harapan baru bagi konservasi berbasis sains terutama untuk biota yang terancam punah. Metode yang tidak invasif dan aman ini memungkinkan pemantauan yang lebih luas dan akurat, sekaligus mendukung pengelolaan kawasan konservasi secara adaptif. Pemanfaatan teknologi ini juga diharapkan dapat memperkuat sistem pemantauan keanekaragaman hayati laut Indonesia,” ujar Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager dari Konservasi Indonesia.

Hiu berjalan (walking shark) di perairan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti). Bersembunyi di lamun.

“Selain untuk hiu berjalan di Raja Ampat, metode eDNA ini diharapkan dapat digunakan untuk mendeteksi dan memetakan distribusi hiu berjalan di kawasan timur Indonesia lainnya, termasuk Halmahera, Teluk Cenderawasih, Perairan Fakfak dan Kaimana, ataupun di negara lain,” pungkas Dr. Edy Setyawan.

“Setelah menghabiskan ratusan jam untuk survei hiu berjalan di malam hari, yang seringkali tidak membuahkan hasil, saya sangat senang sekali melihat teknik baru yang sangat efektif ini dikembangkan. Saya terutama senang melihat bahwa tim Indonesia berencana untuk membagikan pendekatan ini kepada rekan-rekan yang meneliti hiu berjalan yang terancam punah di wilayah terpencil Papua Nugini, di mana metode ini akan sangat bermanfaat bagi upaya konservasi di sana, sekaligus menjadi contoh yang sangat baik tentang inovasi dan kolaborasi ilmiah antar negara berkembang” Dr. Mark Erdmann, Shark Conservation Director dari Re:Wild, menambahkan.

Momentum Hari Keanekaragaman Hayati Internasional menjadi pengingat bahwa inovasi ilmiah memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Di tengah tantangan konservasi yang semakin kompleks, pendekatan seperti eDNA menawarkan cara baru yang lebih efektif dan minim gangguan untuk melindungi kekayaan hayati laut Indonesia.

Narahubung Media: Edy Setyawan | edy@elasmoinstitute.id | +62 811 9697 0800

Tentang Riset

Riset ini merupakan kolaborasi antara Elasmobranch Institute Indonesia, Konservasi Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, dan Re:Wild. Riset ini mendapatkan dukungan dana dari MAC3 Impact Philanthropies, YatchAid Global, Foundation Segré, dan Pew Charitable Trusts.

About the Author