Follow Us!

Populasi Hiu Berjalan di Raja Ampat Mencatat Kepadatan Tertinggi di Dunia: Bukti Pentingnya Perlindungan Habitat Terumbu Karang, oleh Edy Setyawan et al.

SIARAN PERS UNTUK RILIS SEGERA

Populasi Hiu Berjalan di Raja Ampat Mencatat Kepadatan Tertinggi di Dunia: Bukti Pentingnya Perlindungan Habitat Terumbu Karang

WAISAI, Raja Ampat, 24 Juni 2026 – Sebuah kajian ilmiah mutakhir yang terbit di jurnal internasional Frontiers in Fish Science berhasil mengungkap fakta mengejutkan tentang populasi Hiu Berjalan endemik Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti). Penelitian yang berlangsung selama 14 bulan di kawasan Selat Dampier ini mencatat kepadatan populasi spesies yang baru saja dilindungi secara penuh oleh pemerintah Indonesia tersebut mencapai angka tertinggi yang pernah tercatat untuk genus Hemiscyllium di seluruh dunia, yakni hingga 2.462 individu per kilometer persegi di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam.

Baca studi tersebut; Penilaian awal mengenai riwayat hidup dan ekologi spasial hiu epaulette endemik Raja Ampat (*Hemiscyllium freycineti*) di Selat Dampier, Indonesia (dalam bahasa Inggris)

Studi komprehensif yang digawangi oleh tim peneliti dari Elasmobranch Institute Indonesia, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Kepulauan Raja Ampat, Konservasi Indonesia, Masyakakat Arborek, dan Re:wild ini merupakan upaya pertama yang menyeluruh dalam mengungkap biologi, struktur demografi, dan ekologi spasial hiu berjalan sejak diterbitkannya regulasi perlindungan spesies ini melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 30 Tahun 2023. Sepanjang periode Februari 2024 hingga April 2025, tim berhasil mengidentifikasi 736 individu unik dari 1.191 penampakan selama 64 malam survei di enam lokasi, dengan konsentrasi terbesar ditemukan di sekitar Pulau Arborek, Gam, Fam, Mansuar, dan Batanta. Dari total populasi yang teridentifikasi, komposisi betina tercatat mendominasi secara signifikan dengan rasio 1,29:1, sementara ukuran tubuh hiu berkisar
antara 19,4 hingga 75 sentimeter.

Salah satu temuan paling krusial dalam penelitian ini adalah peran terumbu karang sebagai habitat asuhan atau nursery utama bagi spesies ini. Sebanyak 69 persen individu muda tercatat menghuni ekosistem terumbu karang, sementara hiu dewasa lebih banyak ditemukan di padang lamun dan hamparan pasir. Pola pemisahan habitat berdasarkan tahap kehidupan ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap ekosistem terumbu karang sangat vital untuk keberlanjutan rekrutmen populasi. Selain itu, hiu ini menunjukkan perilaku loyalitas yang sangat tinggi terhadap lokasi tempat tinggalnya (site fidelity) dengan pergerakan spasial yang sangat terbatas. Jarak perpindahan maksimum yang tercatat hanya sekitar 475 meter dan tidak ada satu pun individu yang tercatat berpindah antar pulau selama masa studi, menegaskan bahwa spesies ini sangat rentan terhadap gangguan lokal di habitatnya.

Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia, Dr. Edy Setyawan, yang juga merupakan Pew Marine Fellow 2025, menyatakan bahwa temuan kepadatan populasi yang luar biasa tinggi ini adalah kabar baik bagi upaya konservasi di Indonesia. “Namun, sifat mereka yang sangat terikat dengan habitat pesisir dan laut dangkal membuat mereka rentan terhadap gangguan lokal, seperti pembangunan pesisir dan polusi. Data ilmiah yang kami kumpulkan ini adalah fondasi yang sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa upaya perlindungan yang telah ada, seperti Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2023 tentang Perlindungan Penuh Ikan Hiu Berjalan (Hemiscyllium spp.), benar-benar efektif di lapangan dan tidak hanya sekadar kebijakan di atas kertas,” ujarnya.

Meskipun populasi ditemukan dalam kepadatan tinggi, para peneliti mengingatkan bahwa ancaman serius masih mengintai, terutama dari perkembangan pariwisata yang intensif, degradasi habitat akibat pembangunan, serta dampak perubahan iklim seperti gelombang panas laut. Studi pada spesies meningkatkan mortalitas pada hiu jenis ini. Hal ini menjadikan data pertumbuhan yang ditemukan dalam studi, di mana hiu muda tumbuh lebih cepat (7,8 cm/tahun) dibandingkan hiu dewasa (2,8 cm/tahun). Ini menjadi tolok ukur penting untuk memantau kesehatan populasi di masa mendatang.

Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Senior Manager dari Konservasi Indonesia, menekankan implikasi manajerial dari temuan ini. “Studi ini memberikan peta jalan yang jelas bagi pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmiah. Dengan mengetahui secara persis di mana mereka berkembang biak dan di mana mereka mencari makan, kita dapat memprioritaskan perlindungan habitat esensial. Ini adalah kunci untuk memastikan populasi hiu berjalan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah meningkatnya aktivitas manusia di Raja Ampat,” jelasnya.

Peran serta masyarakat lokal juga menjadi sorotan dalam keberhasilan pengumpulan data ini. Dr. Mark Erdmann, Shark Conservation Director dari Re:wild, menyoroti keterlibatan aktif warga Kampung Arborek yang turun langsung dalam tim survei. “Keberhasilan mengumpulkan data sebesar ini tidak lepas dari kolaborasi yang erat. Ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif antara ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat adat serta lokal adalah resep sukses untuk konservasi di pusat keanekaragaman hayati dunia,” ungkapnya.

Salah satu ujung tombak survei lapangan yang merupakan pemuda asli Kampung Arborek, Ronald Mambrasar, turut menyuarakan makna mendalam dari penelitian ini bagi masyarakat setempat. Ronald, yang juga tim monitoring hiu di Konservasi Indonesia, menuturkan bagaimana hiu berjalan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga di kampung halamannya. “Bagi kami masyarakat Arborek, hiu ini bukan sekadar hewan langka yang harus dilindungi. Mereka adalah tetangga yang tinggal di halaman depan rumah kami. Kami bertemu mereka setiap malam saat air surut di sekitar padang lamun dan terumbu karang. Melihat data ilmiah yang membuktikan populasi mereka sehat adalah kebanggaan tersendiri, dan ini semakin menguatkan tekad kami sebagai masyarakat adat untuk terus menjaga kampung dan laut kami,” tuturnya dengan penuh haru.

Menanggapi temuan ini, Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makasar, menyambut baik hasil riset tersebut dan menyatakan komitmennya untuk mengimplementasikan data tersebut ke dalam kebijakan. “Informasi mengenai kepadatan dan pergerakan hiu berjalan ini akan sangat membantu kami dalam menyusun strategi pengelolaan yang lebih tajam dan terukur, terutama dalam mengatur aktivitas wisata dan pembangunan di daerah pesisir. Kami berkomitmen untuk menggunakan data ilmiah ini sebagai dasar kebijakan dalam melindungi hiu berjalan endemik Raja Ampat di kawasan konservasi laut yang kami kelola,” tegasnya.

Dengan terkumpulnya data dasar yang kuat dan komprehensif ini, tim peneliti merekomendasikan adanya pemantauan jangka panjang, perluasan survei ke wilayah lain di Raja Ampat seperti Misool dan Kofiau, serta studi genetika untuk memahami keterhubungan antar populasi yang memiliki tingkat residensi yang tinggi. Para ilmuwan berharap, dengan fondasi data yang solid ini, langkah-langkah konservasi yang adaptif dan efektif dapat segera diimplementasikan untuk memastikan kelestarian Hiu Berjalan Raja Ampat bagi generasi mendatang.

Narahubung Media: Edy Setyawan | edy@elasmoinstitute.id | +62 811 9697 0800

Tentang Penelitian
Penelitian ini merupakan kolaborasi antara Elasmobranch Institute Indonesia, Konservasi Indonesia, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Kepulauan Raja Ampat, masyarakat lokal Arborek, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Re:Wild. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari MAC3 Impact Philanthropies, Yacht Aid Global, Katrine Bosley, Wolcott Henry, dan The Pew Charitable Trusts.

About the Author