Follow Us!

Program INOVASI Terus Membuat Perbedaan

Program Hibah Konservasi Bentang Laut Kepala Burung mendukung organisasi lokal dalam pengembangan pemanfaatan sumber data laut.

Lima artikel mendokumentasikan keberhasilan berkelanjutan dari program INOVASI

  1. Melindungi Sungai Remu, Ikon Kota Sorong Syafruddin SabonnamaWakil Ketua Badan Pembuat Peraturan Daerah, DPRD Kota Sorong Sungai Remu merupakan sungai ikonik yang membelah Kota Sorong. Sejak saya berusia dua tahun, saya sudah tinggal di bantarannya dan merasakan hubungan yang erat dengan sungai itu. Saya masih ingat ketika saya masih kecil dan Sungai Remu masih jernih, masyarakat bisa hidup dari sungai tersebut. Namun, seiring pertambahan penduduk dan penebangan pohon yang semakin merajalela, sungai tersebut mulai rusak sejak akhir tahun 1990 hingga awal tahun 2000-an. Kini, bahkan hujan selama 30 menit sudah bisa menyebabkan sungai tersebut meluap dan mengakibatkan banjir.Beranjak dari keprihatinan atas kondisi Sungai Remu, saya mendirikan Kelompok Peduli Sungai Remu pada tahun 2015 – sebuah kelompok berbasis masyarakat yang berupaya untuk menjaga kebersihan Sungai Remu di Sorong, Papua Barat. Sejauh pengetahuan saya, kelompok kami adalah kelompok pertama yang menggagas gerakan untuk melindungi Sungai Remu.Lewat dana hibah yang dikucurkan oleh Inovasi Small Grants Program (ISGP) yang digagas oleh Conservation International (CI) Indonesia, Kelompok Peduli Sungai Remu bisa melaksanakan berbagai inisiatif konservasi dan merekrut anak-anak muda yang hidup di bantaran sebagai relawan. Enam pemuda sekitar turut memegang kepengurusan kelompok ini. Mereka membantu mengorganisir sosialisasi mengenai pentingnya Sungai Remu kepada masyarakat maupun pemangku kepentingan, melakukan kegiatan penanaman pohon, serta program peningkatan kapasitas warga yang hidup di bantaran sungai bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

    Di sisi lain, saya yakin bahwa kondisi Sungai Remu yang terancam, sudah selayaknya mendapatkan perhatian publik yang lebih besar sebagai ikon Kota Sorong. Berdasarkan pengalaman saya bekerja sebagai staf pemerintah, saya tahu bahwa media massa berperan penting dalam menyuarakan keprihatinan ini. Saya pun memberikan cerita mengenai Sungai Remu kepada rekan-rekan media yang saya kenal. Tak dinyana, berita-berita yang diangkat berhasil sampai ke perhatian Pemerintah Kota Sorong dan mendorong berbagai aksi dari Pemerintah.

    Kepedulian pemerintah ditunjukkan melalui pembangunan tanggul setinggi dua meter untuk mencegah masyarakat sekitar membuang sampah ke sungai, serta membuat rencana relokasi warga yang tinggal di bantaran Sungai Remu untuk menghindarkan mereka dari potensi banjir. Lebih jauh lagi, aktivitas yang kami lakukan berhasil mendorong pengesahan sebuah peraturan daerah yang akan menyelamatkan Sungai Remu, yakni Perda Kota Sorong No. 8 tahun 2015 tentang Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Muara Sungai dan Pantai. Peraturan daerah yang disahkan pada bulan Agustus 2015 ini telah mengatur alokasi anggaran dan upaya konservasi mangrove untuk mengembalikan kondisi Sungai Remu. Rancangan Peraturan Daerah tentang Penataan Pemukiman Kumuh dan Pengelolaan Sungai pun saat ini sedang dalam proses konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri.

    Tentu saja, di samping berbagai dampak positif tersebut, masih banyak ruang untuk inovasi perlindungan Sungai Remu. Penegakan berbagai peraturan terkait lingkungan masih perlu dioptimalkan; apalagi mengingat risiko pencemaran dan perusakan lingkungan semakin tinggi. Populasi Kota Sorong yang terus bertambah akibat tingkat urbanisasi yang tinggi merupakan salah satu faktor. Namun, saya optimis bahwa apa yang telah kami lakukan bisa membantu melindungi Sungai Remu, sungai yang dekat dengan kami semua, warga Kota Sorong.

  2. Mama-mama Nelayan Pendorong Perikanan dari Kaimana Blandina Syakema, Adorince Syakema, dan Nelce RefidesoAnggota Kelompok Itfunfidir Kampung Afu-Afu, Kaimana, Papua BaratDi beberapa kampung di Kaimana, Papua Barat, ada tradisi bahwa perempuan biasanya menangkap kepiting ketika kaum laki-lakinya menangkap ikan dan berburu. Menurut warga setempat, perempuan dipercaya memiliki kemampuan lebih menangani kepiting. Maka tak heran, banyak perempuan di wilayah tersebut yang berprofesi menjadi nelayan kepiting.Potensi kepiting di wilayah Turgani, Kaimana dibuktikan melalui sebuah kajian potensi kepiting tahun 2015 oleh CI Indonesia. Fakta ini mendorong terciptanya Fisheries Improvement Program yang merupakan kerjasama antara CI Indonesia, Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI Foundation), dan Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. MDPI pun membentuk kelompok nelayan kepiting perempuan (terdiri dari 144 orang yang berasal dari empat kampung: Tugarni, Afu-afu, Bayeda, dan Moyana) untuk memaksimalkan potensi dan budidaya kepiting di wilayah ini.Karel Yerusa, Site Supervisor dari MDPI sekaligus pendamping kelompok tersebut menyatakan bahwa pemberdayaan kelompok nelayan perempuan ini membutuhkan dana yang banyak. “karena itu kami sangat berterima kasih atas program ISGP ini. Yayasan kami sendiri tidak memiliki anggaran banyak, sehingga dengan adanya hibah Inovasi kami bisa membeli alat tangkap kepiting yang membantu kegiatan anggota kelompok,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sejauh ini baru Kelompok Itfunfidir Kampung Afu-afu (beranggotakan 20 orang) yang memperoleh manfaat hibah Inovasi dari tahap 2.1. Sementara sebanyak 124 nelayan perempuan sisanya akan dibantu melalui hibah tahap 2.2 yang telah diajukan.

    Selain untuk membeli alat tangkapap, Kelompok Itfunfidir Kampung Afu-Afu bisa melakukan aktivitas pelatihan dari dana hibah yang diperoleh. Ada tiga topik yang menjadi fokus aktivitas pelatihan mereka: Pertama, pelatihan untuk memahami Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster dan Rajungan, yang melarang penangkapan lobster dan rajungan dalam kondisi bertelur. Kedua, pelatihan penanganan kepiting yang ditangkap; dan Ketiga, pelatihan cara mengikat kepiting agar kepiting tidak membahayakan manusia.

    Ketua Kelompok Itfunfidir Kampung Afu-Afu, Adorince Syakema, menjelaskan manfaat dari pelatihan tersebut dalam tata cara penangkapan dan penyimpanan kepiting. “Sebelum ada pelatihan, kami menangkap kepiting dan kami taruh di karung dan ditinggal begitu saja di rumah. Terkadang, kepiting-kepiting yang kami tangkap tidak disiram dan membuat mereka mati. Tapi setelah pelatihan, kami paham kalau kepiting lebih baik ditaruh di keranjang,” ujarnya.

    Sementara itu, Adorince – sama seperti perempuan-perempuan Papua Barat lainnya, bisa menangkap 10-20 ekor kepiting per hari. Data terbaru menyatakan bahwa secara keseluruhan sekitar 6,5 ton kepiting telah ditangkap sepanjang bulan Januari hingga Maret 2016. Dari periode waktu tersebut, sebanyak 14.412 ekor kepiting telah keluar dari alam, dengan berat rata-rata kepiting yang dijual 300 gram, sesuai dengan PERMEN KP No. 1 Tahun 2015.

    Meski telah mengalami peningkatan kemampuan, Blandina, Adorince, dan Nelce – tiga perwakilan nelayan kepiting (atau ‘mama-mama’) mengaku masih menghadapi masalah terkait harga dari pemasok yang masih belum menentu. Ke depannya, mereka juga berharap lebih banyak bantuan yang diberikan dari hibah Inovasi, termasuk penyediaan alat tangkap, pendampingan, dan dukungan transportasi untuk dapat memperluas pasar mereka.

  3. Otobaja Tarami: Menangkar Penyu untuk Anak CucuEks Pemburu Penyu yang Mendirikan Koperasi untuk Mendukung Konservasi PenyuLima tahun lalu, tidak akan ada yang menduga bahwa saya akan menjadi pelaku konservasi penyu dan mendirikan Koperasi Usaha Bersama (KUB) Manduni Putra untuk mendanai usaha dalam perlindungan penyu. Profesi saya saat itu adalah pemburu penyu. Sama seperti pemburu penyu lainnya, saya menangkap penyu untuk konsumsi pribadi dan untuk menjawab kebutuhan ekonomi. Selama lebih dari lima belas tahun saya memburu penyu, saya bisa menangkap 2-5 ekor penyu untuk konsumsi setiap harinya.Komitmen saya untuk berhenti berburu penyu dan justru melindungi penyu terjadi saat saya menyaksikan banyaknya penyu yang ditangkap untuk kebutuhan manusia, ketika itu musim penyu bertelur. Saat itu saya melihat sebuah motor dengan lima ekor penyu ditumpuk di jok-nya, dan di sisi lainnya sebuah mobil lain lewat mengangkut hingga belasan ekor penyu. Banyak mobil dan motor berseliweran memanen sejumlah penyu untuk konsumsi dan untuk dijual ke pasar.Pemandangan tersebut yang kemudian membuat saya berpikir. Jika penyu terus-menerus ditangkap secara tidak bertanggung jawab, bagaimana dengan anak cucu kita nanti? Apakah nanti mereka masih akan melihat penyu?Pemikiran ini menggugah saya untuk menghentikan aktivitas berburu penyu dan berkomitmen melindungi penyu. Pada 2014 saya mengambil kredit bank sebesar Rp 150 juta dengan menjaminkan – surat dana pensiun saya. Separuh dana kredit itu saya gunakan untuk memulai usaha penangkaran penyu awal dengan menampung telur-telur penyu untuk ditetaskan di rumah sebelum dilepas ke laut. Saat saya tengah mencari pendanaan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat, saya mendengar tentang Inovasi Small Grants Program (ISGP), dan saya segera mengajukan proposal kepada CI Indonesia. Setelah proposal diterima, dana hibah Inovasi itu saya gunakan untuk membangun Koperasi Usaha Bersama (KUB) yang keuntungannya digunakan untuk perlindungan penyu.

    Kini ada tiga orang anggota inti dan tujuh orang anggota tetap sebagai pengurus penangkaran penyu ini. Kesepuluh orang ini menata area konservasi agar dapat menampung jumlah penyu yang lebih banyak, terutama spesies-spesies penyu dilindungi, seperti penyu sisik, penyu sisik lekang, penyu hijau, dan penyu belimbing. Ini merupakan aktivitas pokok kelompok kami.

    Kami menggunakan dua metode dalam konservasi penyu: Metode alami dan Metode Teknologi. Metode alami (bila telur penyu yang ditemukan jauh dari penangkaran) dengan membiarkan telur penyu tetap ada di lokasi awalnya, namun kami menghilangkan jejaknya sehingga predator penyu tidak bisa mengetahui keberadaannya. Sedangkan metode teknologi, dilakukan dengan membawa telur penyu ke tempat penangkaran yang telah kami siapkan.

    Tentu saja, upaya konservasi seperti ini tidak akan mengatasi masalah utama menghentikan pemburu penyu yang masih tetap berburu telurnya untuk kebutuhan ekonomi. Mereka bisa menjual satu lusin (12) telur penyu dan dinillai seharga Rp 10.000. Karena itu, salah satu sistem yang saya ciptakan adalah membeli 50-100 butir telur penyu dengan harga Rp 100.000, agar kompetitif dengan harga telur di pasaran. Pada akhirnya, telur-telur penyu untuk dikonservasi justru datang dari para pengambil telur penyu yang ingin mendapatkan keuntungan ekonomi.

    Selama tahun 2015-2016, sejumlah aktivitas yang kami lakukan membuahkan hasil. Pada tahun 2015, kami melepas 3.270 ekor penyu dari 4.800 telur penyu pada tahun itu. Angka ini meningkat dua kali lipat pada tahun 2016, dimana kami melepaskan 6.640 ekor dari 7.086 telur tahun tersebut. Secara keseluruhan, hampir 10.000 ekor penyu telah kami lepaskan ke laut.

    Tentu, kami berkomitmen untuk melepaskan lebih banyak penyu ke depannya. Kami harap bisa menyelesaikan pembangunan tempat konservasi penyu agar bisa digunakan pada tahun 2017. Namun upaya konservasi penyu masih memiliki tantangan jangka panjang: menyadarkan pemburu penyu akan pentingnya konservasi penyu, bukan hanya untuk diri sendiri, namun untuk generasi anak cucu kita mendatang.

     

  4. Melalui Hibah Inovasi, Komunitas Lokal Cetuskan 32 Inisiatif Konservasi di Papua BaratPada tanggal 4-6 Oktober 2016, Sekretariat Daerah Provinsi Papua Barat bersama dengan Koalisi BHS (Bird’s Head Seascape) yang terdiri dari Conservation International (CI) Indonesia, The Nature Conservancy (TNC) dan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, mengadakan Forum Inovasi Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) di Manokwari, Papua Barat. Forum ini merupakan wadah diskusi komunitas lokal yang tergabung sebagai penerima dana hibah Inovasi Small Grants Program (ISGP), dan merupakan penggiat upaya konservasi kelautan di wilayah perairan Papua Barat dan sekitarnya.ISGP merupakan bagian dari program BHS yang bertujuan meningkatkan keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam mendukung upaya konservasi kawasan perairan di wilayah BLKB, Papua Barat. Partisipasi masyarakat didukung oleh ISGP melalui fasilitasi pendanaan kegiatan konservasi kawasan perairan lewat proses seleksi proposal kerja yang berasal dan dikelola oleh masyarakat dengan pendampingan tim koalisi BHS. Program ini dilaksanakan selama periode Agustus 2015 – Maret 2017.Forum yang dihadiri 25 dari 27 kelompok penerima hibah tersebut, mengelola 30 inisiatif terseleksi dari 63 proposal yang masuk. Secara umum semua inisiatif dari para peserta yang berlokasi di enam kabupaten di Papua Barat tersebut memiliki tujuan utama pembentukan jejaring penggiat upaya konservasi kelautan. Sejumlah kelompok yang hadir berasal dari kabupaten Kaimana, Sorong, Teluk Wondama, Raja Ampat, Teluk Bintuni, dan Tambrauw, serta Biak, provinsi Papua. Hibah yang diberikan fokus pada satu dari empat tema utama, yakni kesehatan lingkungan, pembangunan kapasitas lokal, penguatan produksi perikanan berkelanjutan, serta perlindungan habitat dan spesies. Program ini merupakan bagian dari upaya koalisi BHS meningkatkan kepemilikan lokal masyarakat akan konservasi kelautan yang telah berjalan selama ini di daerah tersebut. Sebanyak 15 kelompok atau hampir 60% dari seluruh kelompok merupakan komunitas akar rumput yang berasal dari masyarakat, yang bukan lembaga berbadan hukum. “Kami harap kelompok-kelompok ini mampu membentuk jejaring kerja mitra lokal dalam pelaksanaan konservasi perairan di wilayah ini,” ucap Meity Mongdong, Senior Manager BHS Capacity Building CI Indonesia.Salah satu penerima hibah, Syafruddin Sabonnama, mengungkapkan pendapatnya mengenai program hibah ini. “Tujuan dari hibah ini untuk membangun inovasi telah tercapai, karena telah memotivasi inovasi-inovasi program lainnya,” ucap pria yang kerap dipanggil Sabon tersebut. Ia mengambil contoh, komunitas yang dipimpinnya (Kelompok Peduli Sungai Remu), turut menginspirasi berdirinya Komunitas Peduli Sungai Papua Barat. Selain Sabon, Yehiel Hendry Dasmasela, Pembina Bidang Publikasi Informatika dan Dokumentasi, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan (HMJIK) Universitas Papua (UNIPA) mengungkapkan bahwa tanpa bantuan ISGP, proyek yang kelompoknya rencanakan tidak akan mampu berjalan. HMJIK UNIPA mencetuskan program jamban pesisir untuk mencegah perusakan terumbu karang oleh bakteri E. coli yang kerap ditemukan di usus manusia. Pembuatan jamban tersebut membutuhkan biaya yang banyak, seperti misalnya harga profil tank yang mencapai Rp 2.500.000 per buah.Ke depannya, ISGP diharapkan bisa terus berjalan dan memberikan bantuan terhadap kelompok-kelompok lainnya guna menjamin rasa kepemilikan lokal terhadap wilayah konservasi di Papua Barat, baik di kawasan perairan maupun darat, untuk mendukung inisiatif Pemerintah Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi. Hal ini ditegaskan oleh Victor Nikijuluw, Marine Program Director CI Indonesia dalam sambutannya pada tanggal 4 Oktober 2016 di Hotel Aston Niu Manokwari. “Program hibah ini telah berjalan sangat baik. Saya harap ke depannya ISGP juga mampu menyasar kelompok-kelompok lokal yang melakukan konservasi darat.”

    Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Nataniel D. Mandacan mewakili Pemerintah Provinsi Papua Barat, menunjukkan dukungan terhadap program hibah ini sekaligus menekankan pentingnya konservasi berbasis masyarakat di wilayah Papua Barat. “Kepemilikan lokal merupakan aspek penting bagi keberlanjutan jangka panjang dan keberhasilan pembangunan di Provinsi Papua Barat yang mengedepankan prinsip-prinsip kelestarian sesuai visi Provinsi Konservasi,” tutupnya.

     

  5. Profil Enam Penerima Hibah ISGPBank Sampah Yayasan Misool BaseftinDibentuk pada bulan Februari 2014, program Bank Sampah dari Yayasan Misool Baseftin berangkat dari kepedulian terhadap Raja Ampat. Sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, Raja Ampat merupakan destinasi wisata turis domestik maupun mancanegara. Peningkatan aktivitas dan populasi di Raja Ampat mengakibatkan peningkatan jumlah volume sampah. Oleh karena itu, Yayasan Misool Baseftin menawarkan solusi bank sampah untuk membantu mengatasi masalah ini.Kata “Baseftin” berasal dari bahasa lokal yang berarti “milik kita bersama”, sebagaimana tujuan dari proyek ini untuk mengatasi masalah pencemaran sampah di Raja Ampat melalui peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan. Sampah yang telah dipilah dan didaur ulang akan memberikan pemasukan tambahan bagi masyarakat.Sejauh ini, proyek bank sampah Yayasan Misool Baseftin telah memiliki 2.702 orang nasabah dan 51 unit pengelolaan sampah. Proyek ini pun berhasil membuka lapangan kerja lokal untuk pengelolaannya. Ke depannya, proyek Bank Sampah Yayasan Misool Baseftin akan membuat Perjanjian Kerjasamma dengan Dinas Kebersihan di Sorong untuk proyek penjajakan pengelolaan sampah rumah tangga bagi sekitar 10.000 keluarga pada lima kelurahan di Kota Sorong.Koperasi Manduni Putra

    Dibentuk pada tanggal 1 April 2014, proyek penangkaran penyu di Kampung Mudraidiba, Manokwari, Papua Barat, tidak hanya bertujuan untuk melindungi empat spesies penyu saja. Koperasi ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terkait konservasi penyu dan membantu peningkatan perekonomian masyarakat.

    Dana Inovasi Small Grants Program (ISGP) yang diperoleh oleh Otobaja Tarami, pendiri inisiatif ini, digunakan untuk membangun koperasi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Koperasi ini memperoleh pendanaannya pada periode I program: September 2015 – Maret 2016. Sebanyak tiga orang anggota inti dan tujuh orang anggota tetap turut membantu dalam penataan daerah konservasi.

    Hingga kini, dana ISGP telah membantu pembuatan rumah penetasan telur penyu, pembuatan bak pemeliharaan, dan pelepasan tukik. Salah satu fungsi koperasi yang dibangun adalah untuk membantu pendanaan perlindungan tukik, misalnya memberikan kompensasi kepada pedagang telur penyu yang menjual telur-telur penyu untuk dikonservasi. Sepanjang tahun 2015-2016, hampir 10.000 ekor tukik berhasil dilepaskan dari pusat konservasi penyu ini.

    Program Peduli Sungai Remu Kota Sorong

    Membentang seluas 20,82 km dan sepanjang 30,79 km, Sungai Remu merupakan sungai ikon di Kota Sorong, Papua Barat. Sungai ini merupakan tempat warga bergantung hidup dan mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Namun, akibat penambahan populasi kota serta penebangan pohon yang tidak bertanggung jawab, Sungai Remu mulai rusak di akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an.

    Berangkat dari kepedulian terhadap sungai ini, Program Peduli Sungai Remu dibentuk pada 2015. Aktivitas kelompok ini fokus pada kampanye dan sosialiasi kepada masyarakat, pemangku kepentingan, serta pengambil kebijakan mengenai pentingnya Sungai Remu bagi warga kota Sorong.

    Kepedulian kelompok ini membuahkan hasil. Melalui kerjasama dengan media untuk mengangkat berita tentang krisis Sungai Remu, sebuah peraturan berhasil dicetuskan untuk melindungi Sungai Remu. Peraturan yang dicetuskan pada bulan Agustus 2015 tersebut adalah Perda tentang Pengelolaan Hutan Mangrove yang mewajibkan reboisasi dan upaya konstruktif untuk perbaikan Sungai Remu. Tidak hanya itu, upaya ini juga menginspirasi lahirnya Forum Pencinta Sungai Papua Barat.

    Kelompok Nelayan Perempuan Penangkap Kepiting Itfunfidir Base Abuma

    Berangkat dari hasil kajian yang menunjukkan tingginya potensi kepiting di wilayah Tugarni (Kaimana) dan sekitarnya, Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) membentuk kelompok nelayan perempuan di empat kampung, yakni Tugarni, Afu-afu, Bayeda, dan Moyana. Hingga saat ini, total anggota keempat kelompok nelayan perempuan tersebut mencapai 144 orang. Keempat kelompok tersebut juga turut didampingi oleh CI dan Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.

    Sebanyak 20 dari 144 orang anggota kelompok tersebut merupakan penerima langsung dana hibah Inovasi dari tahap I: September 2015 – Maret 2016. Dua puluh nelayan perempuan ini berasal dari Kelompok Nelayan Perempuan Penangkap Kepiting Itfunfidir Base Abuma, Kampung Afu-afu. Dana hibah digunakan untuk pelatihan tentang tiga topik: pelatihan mengenai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster dan Rajungan, pelatihan penanganan kepiting, dan cara mengikat kepiting.

    Sejak bulan Januari hingga Maret 2016, kelompok nelayan perempuan dari Kampung Afu-afu ini berhasil menangkap 3.469 ekor kepiting. Ke depannya, diharapkan ketiga kelompok nelayan perempuan di tiga kampung lainnya bisa mendapatkan hibah juga dari tahap II ISGP.

    Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Papua (HMJIK UNIPA)

    Melalui dana hibah yang diterima dari ISGP, HMJIK UNIPA berupaya untuk memberikan solusi kepada masalah kesehatan pesisir kota Manokwari melalui proyek jamban pesisir. Ide ini berangkat dari hasil kajian bahwa bakteri E. coli di perairan Teluk Doreri Manokwari telah mencapai ambang batas teratas dari standar kualitas air yang didasarkan pada Kep-82/MENKLH/2001. Bakteri ini mencemari Teluk Doreri, mencemari karang hasil transplantasi, mencemari air sumur, bahkan ikan yang dikonsumsi oleh manusia.

    Dengan dana hibah Inovasi, HMJIK UNIPA berencana untuk melakukan survei atas tingkat kelayakan fasilitas sanitasi pada masyarakat Kampung Borobudur dan Fanindi. Selain itu, mereka juga akan merancang tipikal Teknologi Tepat Guna: Jamban Pesisir Sederhana (JPS) yang dapat digunakan untuk fasilitas sanitasi yang tidak mencemari lingkungan pesisir kota Manokwari. Inisiatif ini membutuhkan biaya yang besar, misalnya untuk pembelian 12 profil tank yang masing-masing seharga Rp 2.500.000.

    Dari proyek ini, HMJIK UNIPA berharap bahwa masyarakat bisa mengakses fasilitas sanitasi yang tepat guna dan akan menciptakan lingkungan pantai dan laut yang bersih dan berkelanjutan. Selain itu, kesadaran pemerintah dan semua pemangku kepentingan dapat ditingkatkan dalam kegiatan pengelolaan limbah di wilayah Manokwari.

    Kelompok Masyarakat Kampung Kamaka

    Terletak di pesisir Teluk Triton, Kaimana, Kampung Kamaka memiliki potensi lingkungan dan sumber daya laut yang sangat tinggi. Wilayah ini memiliki potensi terumbu karang yang tinggi, potensi wisata sebagai wilayah migrasi hiu paus, dan tempat penyu bertelur.

    Sayangnya, kesadaran penduduknya terhadap potensi ini masih rendah. Maka, Kelompok Masyarakat Kampung Kamaka dibentuk untuk meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya kebersihan lingkungannya. Sejak menerima dana hibah dari program ISGP, Kelompok Masyarakat Kampung Kamaka berhasil melaksanakan kegiatan pada tanggal 18 Januari 2016. Kegiatan tersebut meliputi aksi bersih pantai serta pemasangan tong sampah dan spanduk di daerah sekitar pantai. Acara ini diikuti oleh warga dari semua lapisan masyarakat, mulai dari anak kecil hingga warga senior.

    Sejauh ini, Kelompok Masyarakat Kampung Kamaka berhasil melakukan acara pembersihan di sekitar gereja, kampung, dan jalan-jalan umum. Tidak hanya itu, tujuan awal mereka untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya lingkungan juga cukup berhasil. Melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan, para ibu rumah tangga yang biasa membuang sampah dari dapur ke laut kini paham cara mengolah sampah dengan baik.

     

About the Author